Kamis, 29 Oktober 2009

Tafsir Surat Al-Fatihah


Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Menyayangi


Ummu Salamah r.a. berkata, "Rasulullah saw. telah membaca Bismillahirrahmanirrahim ketika membaca Fatihah dalam salat. (Hadis da'if Riwayat Ibnu Khuzaimah).

Abu Hurairah r.a. ketika memberi contoh salat Nabi saw. membaca keras-keras Bismillahirrahmanirrahim. (HR. an-Nasa'i, Ibn Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim).

Imam Syafii dan al-Hakim meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Muawiyah ketika sembahyang di Madinah sebagai imam, tidak membaca Bismillahirrahmanirrahim, maka ditegur oleh sahabat Muhajirin yang hadir, kemudian ketika sembahyang lagi ia membaca Bismillahirrahmanirrahim.

Adapun dalam mazhab Imam Malik tidak membaca Basmalah berdasarkan hadis Aisyah r.a. yang berkata, "Biasa Rasulullah saw. memulai salat dengan takbir dan bacaannya dengan Alhamdu lillahi rabbil alamin. (HR. Muslim).

Anas r.a. berkata, "Saya sembahyang di belakang Nabi saw., Abu Bakar, Umar, Utsman dan mereka semuanya memulai bacaannya dengan Alhamdu lillahi rabbil alamin". (Bukhari, Muslim).

Dan sunat membaca Bismillahirrahmanirrahim pada setiap perkataan dan perbuatan. karena sabda Nabi saw. yang berbunyi:
"Tiap urusan (perbuatan) yang tidak dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim maka terputus berkatnya."

Juga sunat membaca Basmalah ketika wudu, karena sabda Nabi saw.:
"Tiada sempurna wudu orang yang tidak membaca Bismillah"

Dan sunat juga dibaca ketika menyembelih (membantai) binatang, juga sunat ketika makan, karena sabda Nabi saw. ke- ada Umar bin Abi Salamah yang berbunyi, "Bacalah Bismil- lah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat-dekat kepadamu". (HR. Muslim). Juga membaca Basmalah ketika akan jima' (bersetubuh) sebagaimana riwayat Ibn Abbas r.a. Rasullah saw. bersabda: Andaikan salah satu kamu jika akan bersetubuh (jima') de- ngan istrinya membaca, "engan nama Allah, ya Allah jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan dari rezeki yang Tuhan berikan kepada kami. Maka jika ditakdirkan mendapat anak dari jima' tidak mudah diganggu oleh setan untuk selamanya". (HR. Bukhari, Muslim).


Bismillah ( Dengan nama ALLAH )
Dengan nama Allah. Susunan kalimat yang demikian ini dalam bahasa Arab berarti ada susunan kata-kata yang mendahuluinya yaitu: Aku mulai perbuatan ini dengan nama Allah, atau: Permulaan dalam perbuatanku ini dengan nama Allah; untuk mendapat berkat dan pertolongan rahmat Allah sehingga dapat selesai dengan sempurna dan baik. Juga untuk menyedari kembali sebagai makhluk Allah, bahawa segalanya bergantung kepada rahmat kurnia Allah. Hidup, mati dan daya upaya semata-semata terserah kepada rahmat kurnia Allah Azza wa Jalla.

ALLAH
Nama Zat Allah Ta'ala. Nama Allah khusus bagi Allah, tidak dinamakan pada zat yang lain selain Allah. Haram menamakan dengan nama Allah pada zat yang lain selain Allah melainkan dengan menyandarkan sesuatu seperti Abdullah (hamba Allah) atau Amatullah (hamba perempuan Allah).

Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Murah Yang Maha Penyayang)
Ar-Rahman (Yang Pemurah) yakni yang penuh rahmatNya kepada semua makhluk di dunia hingga di akhirat, kepada yang mukmin maupun yang kafir. Adapun Ar-Rahim (Yang Penyayang) khusus rahimNya buat kaum mukmin sahaja.

Firman Allah: "Arrahman alal arsyi istawa", untuk menunjukkan bahwa rahmat Allah meliputi (memenuhi) seiuruh Arsy. Dan firman Allah: "Wa kaana bil mu'miniina rahiima" (Dan terhadap kaum mukminin sangat belas kasih).

Nama Rahman ini juga khusus bagi Allah, tidak dapat dipakai oleh lain-lainNya. Karena itu ketika Musailama al-Kadzdzab berani menamakan dirinya Rahmanul Yamamah, maka Allah membuka kepalsuan dan kedustaannya, sehingga dikenal di tengah-tengah masyarakat Musailamah al-Khadzdzab bukan sahaja bagi penduduk kota bahkan orang-orang Baduwi juga menyebutnya Musailamah al-Khadzdzab iaitu Musailamah Yang Pembohong.

Kesimpulan di dalam asma (nama-nama) Allah ada yang dapat dipakai oleh lain-Nya dan ada juga yang tidak dapat dipakai oleh lain-Nya seperti Allah, Ar-Rahman, Al-Khalik, Ar-Razak dan lain-lainnya. Dan yang boleh seperti Ar-Rahim, As-Sami', Al-Bashir seperti firman Allah, "Faja'alnaahu samii'an bashiira" (Maka Kami jadikan manusia itu mendengar lagi melihat).


(2) ALHAMDU LILLAHIR RABBIL ALAMIN
Segala puja dan puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara alam semesta.

Ibn Jarir berkata, "Alhamdu lillah, syukur yang ikhlas melulu kepada Allah tidak kepada lain-lain-Nya daripada makhluk-Nya, syukur itu karena nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba dan makhluk-Nya yang tidak dapat dihitung dan tidak terbatas, seperti alat anggota manusia untuk menunaikan kewajiban taat kepada-Nya, di samping rezeki yang diberikan kepada semua makhluk manusia, jin dan binatang dari berbagai perlengkapan hidup, karena itulah maka pujian itu sejak awal hingga akhirnya tetap pada Allah semata-mata.

Alhamdullilah
Pujian Allah pada diri-Nya, yang mengandung tuntunan kepada hamba-Nya supaya mereka memuji Allah seperti seakan-akan perintah Allah, "Bacalah olehmu Alhamdulillah".

Alhamd pujian dengan lidah terhadap sifat-sifat pribadi, maupun sifat yang menjalar kepada orang lain, sebaliknya syukur itu pujian terhadap sifat yang menjalar, tetapi syukur dapat dilaksanakan dengan hati, lidah dan anggota badan. Alhamd berarti memuji sifat keberanian, kecerdasan-Nya atau karena pemberian-Nya. Syukur khusus untuk pemberian-Nya. Alhamd (puji) lawan kata Adzzam (cela).

Ibn Abbas r.a. berkata, Umar r.a. berkata kepada sahabat- sahabat, "Kami telah mengerti dan mengetahui kalimat Subanallah, laa ilaha illallah dan Allahu Akbar, maka apakah Alhamdu Lillahi itu?" Jawab Ali r.a., "Suatu yang dipilih oleh Allah untuk memuji Zat-Nya".

Ibn Abbas berkata, 'Alhamdu Lillah kalimat syukur, maka jika seorang membaca Alhamdu Lillah, Allah menjawab, "HambaKu telah syukur pada-Ku".

Jabir bin Abdullah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda: Seutama-utamanya zikir ialah "La ilaha illallah", dan seutama-utamanya doa ialah "Alhamdu Lillah". (HR. at-Tirmidzi, hadis Hasan Gharib).

Anas. bin Malik r.a. berkata, Nabi saw. bersabda: Tiadalah Allah memberi nikmat kepada seorang hamba- Nya, kemudian hamba itu mengucap "Alhamdu Lillah", melainkan apa yang diberi itu lebih utama (afdhal) dari yang ia terima. (Yakni ucapan "Alhamdu Lillah" lebih be- sar nilainya dari nikmat dunia itu). (HR. Ibnu Majah).

Anas r.a. juga meriwayatkan Nabi saw. bersabda, "Andaikan dunia sepenuhnya ini di tangan seorang dari umatku kemudian ia membaca 'Alhamdu Lillah' maka pasti kalimat Alhamdu Lillah lebih besar dari dunia yang di tangannya itu". 'Al' dalam kalimat Al-hamdu berarti segala jenis puja dan puji bagi Allah. Sebagaimana tersebut dalam hadis "Allahumma lakal hamdu kulluhu walakal mulku kulluhu wa biyadikal khair kullihi wa ilaika yar ji'ul amru kulluhu" (Ya Allah bagi-Mu segala puji semuanya, dan bagi-Mu kerajaan semuanya dan di tangan-Mu kebaikan semuanya, dan kepada-Mu kembali segala urusan semuanya).

Rabb
Bererti pemilik yang berhak penuh, juga berarti majikan, juga yang memelihara serta menjamin kebaikan dan perbaikan, dan semua makhluk alam semesta.

Alam ialah segala sesuatu selain Allah. Maka Allah Rabb dari semua alam itu sebagai pencipta, yang mcmelihara, memperbaiki dan menjamin. Sebagaimana tersebut dalam surat asy- Syu'araa 23-24. Fir'aun bertanya, "Apakah rabbul alamin itu?" Jawab Musa, "Tuhan Pencipta, Pemelihara penjamin langit dan bumi dan apa saja yang di antara keduanya, jika kalian mahu percaya dan yakin."

Alam itu juga pecahan dari alamat (tanda) sebab alam ini semua menunjukkan dan membuktikan kcpada orang yang memperhatikannya sebagai tanda adanya Allah Tuhan yang menjadikannya.

(3) AR-RAHMAN AR-RAHIM
Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

Ar-Rahman
yang memberi nikmat yang sebesar-besarnya seperti nikmat makan, minum, harta benda dan lain-lain.

Ar-Rahim
yang memberi nikmat yang halus sehingga tidak terasa, seperti nikmat iman dan islam. Jika anda akan menghitung nikmat kurnia Allah maka takkan dapat menghitungnya.

(4) MALIKI YAUMIDIN
Raja yang memiliki pembalasan

Maliki
Dapat dibaca: Maliki (Raja), dan Maaliki (Pemilik - Yang Memiliki). Maaliki sesuai dengan ayat:
"Sesungguhnya Kami yang mewarisi bumi dan semua yang di atasnya, dan kepada Kami mereka akan kembali."
(Maryam 40).

Maliki sesuai dengan ayat: Katakanlah, "Aku berlindung dengan Tuhannya manusia. Rajanya manusia".
(an-Naas 1-2)

. "Bagi siapakah kerajaan pada hari ini (hari kiamat)? Bagi Allah Yang Esa yang memaksa (perkasa)."
(al-Mu'min = Ghafir 16).

Kerajaan yang sesungguhnya pada hari itu hanya bagi Ar: Rahman.
(al-Furqan 26).

Ad-Din (Pembalasan dan Perhitungan).
Sesuai dengan ayat:
"Apakah kami akan dibalas (diperhitungkan)". (as-Shafaat 53).

Umar r.a. berkata, "Andaikan perhitungan bagi dirimu sebelum kamu dihisab (diperhitungkan) dan pertimbangkan untuk dirimu sebelum kamu ditimbang, dan siap-siaplah untuk menghadapi perhitungan yang besar, menghadap kepada Tuhan yang tidak tersembunyi pada-Nya sedikit pun dari amal perbuatanmu. Pada hari kiamat kelak kalian akan dihadapkan kepada Tuhan dan tidak tersembunyi pada-Nya suatu apa pun."

(5) Iyyaka na'budu wa iyyaka nas ta'iin.
Hanya kepadaMu (Allah) kami mengabdi (menyembah) dan hanya kepada-Mu pula kami minta pertolongan.

Adh-Dhahaak dari Ibn Abbas berkata,
"Iyyaka na'budu bermaksud Kepada-Mu kami menyembah mengesakan dan takut dan berharap, wahai Tuhan tidak ada lain-Mu". Dan Iyyaka nasta'in bermaksud "Kami minta tolohg kepada-Mu untuk menjalankan taat dan untuk mencapai semua hajat kepentinganku"

Qatadah berkata,
Dalam Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, Allah menyuruh supaya tulus ikhlas dalam melakukan ibadat kepada Allah dan supaya benar-benar mengharap bantuan pertolongan Allah dalam segala urusan."

(6) Ihdinaas Shiraathal mustaqiim
Pimpinlah kami ke jalan yang lurus.

Shirath dapat dibaca dengan shad, siin dan zai dan tidak berubah arti.

Shiraathal mustaqiim, jalan yang lurus yang jelas tidak berliku-liku. Shiraatal mustaqiim, ialah mengikuti tuntunan Allah dan Rasulullah saw. Juga berarti Kitab Allah, sebagaimana riwayat dari Ali r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Asshiratul mustaqiim kitabullah'. Juga berarti Islam, sebagai agama Allah yang tidak akan diterima lainnya.

An Nawas bin Sam'aan r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Allah mengadakan contoh perumpamaan suatu jalan (shirrat) yang lurus, sedang di kanan-kiri jalan ada dinding dan di pagar ada pintu-pintu terbuka, pada tiap pintu ada tabir yang menutupi pintu, dan di muka jalan ada suara berseru, "Hai manusia masuklah ke jalan ini, dan jangan berbelok dan di atas jalanan ada seruan, maka bila ada orang yang akan membuka pintu dipenngatkan, 'Celaka anda, jangan membuka, sungguh jika anda membuka pasti akan masuk'. Shiraat itu ialah Islam, dan pagar itu batas-batas hukum Allah dan pintu yang terbuka ialah yang diharamkan Allah- sedang seruan di muka jalan itu ialah kitab Allah, dn seruan di atas shiraf ialah seruan nasihat dalam hati tiap orang muslim.
(HR. Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa'i).

Tujuan ayat ini minta taufik hidayat semoga tetap mengikuti apa yang diridai Allah, sebab siapa yang mendapat taufik hidayat untuk apa yang diridai Allah maka ia termasuk golongan mereka yang mendapa nikmat dari Allah daripada Nabi shiddiqin, syuhada dan shalihin. Dan siapa yang mendapat taufik hidayat sedemikian berarti ia benar-benar Islam berpegang pada kitab Allah dan sunnaturrasul, menjalankan semua perintah dan meninggalkan semua larangan syariat agama.

Jika ditanya, "Mengapakah seorang mukmin harus minta hidayat, padahal ia bersalat itu berarti hidayat?"
Jawabnya, "Seorang memerlukan hidayat itu pada setiap saat dan dalam segala hal keadaan kepada Allah supaya tetap terus terpimpin oleh hidayat Tuhan itu, karena itulah Allah menunjukkan jalan kepadanya supaya minta kepada Allah untuk mendapat hidayat taufik dan pimpinan-Nya. Maka seorang yang bahagia hanyalah orang yang selalu mendapat taufik hidayat Allah.

Sebagaimana firman Allah dalam ayat 136, surat an-Nisa:
"Hal orang beriman percayalah kepada Allah dan Rasulullah" (an-Nisa 136).

Dalam ayat ini orang mukmin disuruh beriman, yang maksudnya supaya terus tetap imannya dan melakukan semua perintah dan menjauhi larangan, jangan berhenti di tengah jalan, yakni istiqamah hingga mati.


(7) Shiraathalladzina an'amta alaihim ghairil magh dhubi alaihim waladh dhaallin
Jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Tuhan atas mereka, dan bukan jalan yang dimurkai Tuhan atas mereka dan bukan jalan orang-orang yang sesat.

Inilah maksud jalan yang lurus itu, yaitu yang dahulu sudah ditempuh oleh orang-orang yang mendapat rida dan nikmat dari Allah ialah mereka yang tersebut dalam ayat 69 an-Nisa:
Dan siapa yang taat kepada Allah dan Rasulullah maka mereka akan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dari para Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin, dan merekalah sebaik-baik kawan. (an-Nisa 69).

Dilanjutkan oleh Allah dengan ayat:
"Dzalikal fadh lu minallahi wakafa billahi aliimaa" (Itulah kurnia Allah dan cukup Allah yang Maha Mengetahui.)

Ibnu Abbas berkata, "Jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Tuhan kepada mereka sehingga dapat menjalankan taat ibadat serta istiqamah seperti Malaikat, Nabi-nabi, Shiddiqin, syuhada dan shalihin.

Bukan jalan orang-orang dimurkai atas mereka, yaitu mereka yang telah mengetahui kebenaran hak tetapi tidak melaksanakannya seperti orang-orang Yahudi, mereka telah mengetahui kitab Allah, tetapi tidak melaksanakannya, juga bukan jalan orang-orang yang sesat karena mereka tidak mengetahui.

Ady bin Hatim r.a. bertanya kepada Nabi saw., "Siapakah yang dimurkai Allah itu?" Jawab Nabi saw., "Alyahud (Yahudi)". "Dan siapakah yang sesat itu?" Jawab Nabi saw. "An-Nashara (Kristen/Nasrani)".

Orang Yahudi disebut dalam ayat "Man la'anabullahu wa ghadhiba alaihi"(Orang yang dikutuk (dilaknat) oleh Allah dan dimurkai, sehingga dijadikan di antara mereka kera dan babi.)

Orang Nashara disebut dalam ayat "Qad dhallu min qablu, wa adhallu katsiera wa dhallu an sawaa issabiil" (Mereka yangtelah sesat sejak dahulu, dan menyesatkan orang banyak, dan tersesat dari jalan yang benar.)

Pasal:
Surat ini hanya tujuh ayat, mengandung pujian dan syukur kepada Allah dengan menyebut nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang mulia, lalu menyebut hal Hari Kemudian, pembalasan dan tuntutan, kemudian menganjurkan kepada hamba supaya meminta kepada Allah dan merendah diri pada Allah, serta lepas bebas dari daya kekuatan diri menuju kepada tulus ikhlas dalam melakukan ibadat dan tauhid pada Allah, kemudian menganjurkan kepada hamba sahaya selalu minta hidayat taufik dan pimpinan Allah untuk dapat mengikuti shirat mustaqiim supaya dapat tergolong dari golongan hamba-hamba Allah yang telah mendapat nikmat dari golongan Nabi, Siddiqin, Syuhada dan Shalihin. Juga mengandung anjuran supaya berlaku baik mengerjakan amal saleh jangan sampai tergolong orang yang dimurkai atau tersesat dari jalan Allah.
Selengkapnya...

Ud’uunii Astajib Lakum..

“Berdoalah kalian (semua), maka niscaya akan Aku (Allah) kabulkan”.
Demikian firman Allah dalam kitabNYa. Allah mempunyai cara yang unik dalam mendorong kita agar bersujud, berkhusyuk dan khidmat meminta pertolongan kepadaNYA, salah satunya adalah dengan berdoa. Allah berjanji bahwa setiap doa PASTI akan dikabulkanNYA, tentunya doa yang dikabulkan adalah doa yang baik dan bermanfaat.

Dalam setiap firmanNYA, Allah tidak hanya menyampaikan makna yang tersurat akan tetapi juga tersirat. Dalam ayat yang disebut di atas, ada beberapa makna yang tersirat, salah satunya adalah adanya media komunikasi antara Makhluk dan sang Khalik, berupa Do’a.

Bagaimanakah sebuah Doa bisa menjadi media komunikasi antara makhluk dan Khaliqnya ?
Hakikat doa adalah menunjukkan ketergantungan kita kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan berlepas diri dari daya dan upaya makhluk. Doa merupakan tanda Ubudiyah (penghambaan diri secara totalitas kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala). Ketika kita menunjukkan sebuah ketergantungan kepada Allah SWT, terdapat suatu proses interaksi komunikasi. Kita menunduk, bersimpuh, dan bersujud menumpahkan segala keluh kesah permasalahan serta memohon petunjuk solusi pemecahannya.

Proses komunikasi pasti dibutuhkan oleh setiap manusia di bumi. Dengan komunikasi, kita bisa mengutarakan pikiran dan harapan kita, dan tentunya juga mengetahui bagaimana orang lain di sekitar kita berpikir tentang kita. Melalui komunikasi kita dapat berintrospeksi diri, mencari kesalahan dan kelemahan diri dalam semua perilaku. Maka secara tidak langsung akan mendorong kita untuk mengubah dan memperbaiki diri.

Begitu juga halnya dengan doa. Doa, sebagai media komunikasi kita dengan Allah, merupakan alat untuk memperbaiki diri, mengubah potensi diri menjadi kemampuan yang tampak nyata dari dalam diri kita. Jika kita meyakini hal tersebut, maka letak kekuatan doa sebenarnya ada dalam diri masing-masing. Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sampai kaum tersebut (ingin) merubah dirinya sendiri”. (QS. ….)

Seberapa besar keinginan kita untuk mengubah diri menjadi bangkit dan mampu berbuat, akan menentukan seberapa besar perubahan yang terjadi dalam diri dan lingkungan kita. Perubahan inilah yang akan menciptakan hal-hal luar biasa yang terjadi, yang sangat mungkin akan menentukan keberhasilan kita di masa depan.

Ibarat tanaman, kekuatan kita untuk mengubah diri adalah bibitnya, sementara itu doa itu sendiri adalah pupuknya. Pupuk akan membuat bibit tumbuh sedemikian subur, berbuah banyak. Pupuk tanpa bibit tidak akan menumbuhkan apa-apa.

Maka barang siapa ingin setiap perintahnya atau keinginannya dilaksanakan oleh orang lain, hendaknya orang itu juga harus memahami dan mengerti keinginan orang lain, serta merubah diri agar dituruti dan dihormati. Inilah cara berkomunikasi dan berinteraksi yang baik, sehingga barang siapa menginginkan semua doanya dikabulkan, maka janganlah terlebih dahulu memperhatikan apa yang kita minta, tetapi perhatikan apa yang bisa kita ubah dulu dari diri kita sendiri. Contoh ringan misalnya kita tengah terpuruk dalama nilai akademik perkuliahan, ataupun sedang dililit utang, dan sebelumnya kurang tepat waktu dalam melaksanakan shalat, maka hendaknya jangan ragu untuk mulai berubah. Mulailah disiplin dalam waktu shalat.

Selain sebagai media komunikasi dan interaksi dengan Allah, doa juga menjadi bagian dari upaya mendekatkan diri pada Allah. Allah menyediakan berbagai jalan bagi hamba-Nya agar semakin dekat kepada-Nya.

Pada akhirnya dalam proses pelaksanaan doa diperlukan interaksi dua arah. Yaitu interaksi kita dengan diri kita melalui introspeksi, dan interaksi kita pada Allah. Kita harus mengkritisi dan mengevaluasi terhadap perilaku kita, sambil kita terus mengikat diri pada Allah.

Semoga melalui media Doa, kita dapat berkomunikasi dan berinteraksi secara intensif dengan Allah. Dan juga mendorong diri menuju perubahan ke arah yang lebih baik, Amin.

1 Agustus 2008
Selengkapnya...

Rabu, 28 Oktober 2009

Kesan Bapak Daud Tentang KH. Mufid Mas'ud


Dusun Candi sebelum kedatangan romo KH. Mufid Mas’ud merupakan dusun yang sepi karena jauh dari pusat kota Jogjakarta. Awal mula KH. Mufid Mas’ud datang ke Candi yang hanya ditemani keluarga, seorang santri putra dan kurang lebih 30 santri putri, beliau belum begitu dipedulikan masyarakat dalam artian masyarakat hanya sekedar tahu bahwa ada seorang Kiai yang bertempat di dusunnya.

Romo KH. Mufid tahun 1975 belum seperti saat beliau meninggal, beliau belum mempunyai kendaraan. Kemana-mana beliau menggunakan kendaraan umum seperti orang kebanyakan. Jika ingin bepergian, beliau sering berjalan kaki sampai jalan raya, biasanya ditemani al-marhumah ibu Nyai Hj. Jauharoh. Jika tiba waktu sholat dan kebetulan masih berada di sekitar jalan raya, beliau sering sholat di tempat keluarga saya, rumah terdekat yang ada. Begitu disiplinnya beliau sholat berjama’ah dan sholat pada awal waktunya.

Tahun 1983 ketika pesantren akan memasang instalasi listrik, terlihat sekali romo KH. Mufid sangat menjujung tinggi hak adami. Meski listrik bukan khusus keperluan pesantren, tapi juga untuk kepentingan bersama, romo KH. Mufid tetap memerintahkan kepada saya untuk menemui masyarakat yang memiliki kebun di pinggir jalan agar berkenan membersihkan pohon-pohon yang akan dilalui kawat listrik. Ada satu dua masyarakat yang mengira bahwa listrik itu untuk kebutuhan pesantren dan minta ganti rugi atas ditebanganya pohon yang ada di halaman mereka, romo KH. Mufid-pun dengan rela hati memberikan ganti rugi sesuai yang diminta melalui saya.

Beliau sangat peduli dengan orang yang mau mendekat kepadanya, itu saya rasakan, saya membuka warung, mulai dari kios bensin kecil hingga kini bisa menjadi seperti yang anda lihat ( kios bapak H. Daud ada di pertigaan jalan masuk PPSPA), semua itu tak lepas dari pantauan dan doa beliau. Selain secara khusus saya mohon do’a romo KH. Mufid Mas’ud, beliau pun sering secara tak langsung mengantarkan tamu-tamu dari kalangan ulama untuk mendo’akan keluarga saya. Warung saya sering dikontrol beliau dengan cara, beliau sering membeli oleh-oleh dari warung saya ketika akan pergi, beliau turun dari mobil, melihat dan memilih sendiri apa yang akan dijadikan buah tangan dan beliau membayar sesuai dengan harga.

Dengan bermukimnya KH. Mufid Mas’ud, Candi yang dulu tidak dikenal masyarakat luar kota, kini menjadi tujuan masyarakat dari berbagai penjuru, baik yang tujuannya untuk memuntut ilmu maupun dengan tujuan mencari rezeki. Kini romo KH. Mufid telah tiada, semoga dengan meninggalnya beliau dusun Candi juga tidak ikut meninggal dalam arti hanya statis, tidak ada perubahan dan pembangunan. Saya yakin beliau tidak mengingkan dusun Candi tidak dilirik lagi oleh masyarakat luar terutama masyarakat pesantren, buktinya romo KH. Mufid minta agar di makamkan di dusun Candi. Mudah-mudahan setelah 30 tahun lebih beliau berjuang, anak-anak, menantu, dan cucu-cucu bisa tetap melanjutkan perjuangan romo KH. Mufid Mas’ud.
Selengkapnya...

Pengajian Al Qur'an di Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran

Saat ini pengajian Al-qur’an yang berjalan di komplek 1 dan 2 menggunakan model ‘sistem dan personal’ sebagaimana yang diprogramkan oleh bapak pengasuh KH. Mu’tashim Billah. Sistem tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: seluruh santri ngaji pada badal yang terdiri dari empat orang sehingga terdiri dari empat kelompok. Masing-masing kelompok berbeda tergantung tingkat pendapatan juznya, sebagai berikut:
1. kelompok 1 : untuk santri dengan perolehan juz 1-5
2. kelompok 2 : untuk santri dengan perolehan juz 6-10
3. kelompok 3 : untuk santri dengan perolehan juz 11-20
4. kelompok 4 : untuk santri dengan perolehan juz 20-30

Sementara maksud dari sistem ‘personal’ adalah oleh pengurus telah dibuat jadual untuk 6 (enam) orang yang disusun berpasangan sehingga terdiri dari 3 pasang santri. Ketiga pasang santri mengaji atau setor kepada bapak pengasuh sesuai jadual. Caranya adalah sebagai berikut: masing-masing santri menyimak pasangannya secara bergantian dengan diawasi atau disimak langsung oleh bapak pengasuh.setiap kali mengaji harus disetor sebanyak satu juz mulai dari juz 1. tujuan model ‘personal’ ini adalah untuk menjaga deresan yang telah diperoleh.

Setiap hari mulai pukul 09.00 – Dluhur diadakan muroja’ah / simaan atau setiap santri mempersiapkan setoran yang baru (ngeloh), untuk persiapan ngaji berikutnya. Kegiatan lain yang diselenggarakan di kompleks 1 dan 2 adalah sebagai berikut (jadual terlampir) :
• Mujahadah rutin dan mujahadah khusus (sesuai instruksi bapak pengasuh).
• Pembacaan kitab dalailul khoirot
• Pengajian tafsir
• Dibaiyah
(sumber : website resmi pandanaran)
Selengkapnya...

Momen Kebangkitan Menuju Kemajuan ; Laporan Kesiapan Keluarga Besar PP. Sunan Pandanaran Dalam Meneruskan Perjuangan Almaghurlah KH Mufid Mas’ud


Dalam sebuah kesempatan berbincang dengan KH Farhan Usman pada saat acara Khotmul Qur’an ke 33 PPSPA kemarin, beliau kepada redaksi SP mengemukakan rasa takjubnya atas kondisi Pandanaran terkini. Menurut alumni senior yang juga masih keponakan KH Mufid Mas’ud ini, sebuah pesantren biasanya akan mengalami goncangan tatkala sang muassis meninggal dunia. Goncangan ini biasanya mewujud dalam bentuk berkurangnya jumlah santri, atau tak jarang berakhirnya riwayat sebuah pesantren. Kondisi semacam itu memang jamak kita jumpai di berbagai pesantren yang berbasis kultur salaf. Meski goncangan itu umumnya bersifat temporer, imbasnya seringkali adalah terbengkelainya kegiatan belajar mengajar yang gilirannya menggiring pesantren dalam pusaran arus kemunduran. “Bapak telah mempersiapkan segalanya untuk kelangsungan pesantren ini jauh-jauh hari” tambah Kyai yang sekarang mukim di Bogor ini.

Statemen Kyai Farhan itu layak di amini, tengok saja misalnya pada saat acara khataman kemarin. Meski Bapak telah meninggalkan kita, tamu-tamu yang hadir untuk ngalap barokah khataman Qur’an sampai membludak, di luar perkiraan. Fenomena itu setidaknya bisa kita tafsirkan sebagai salah satu keberhasilan KH Mufid Mas’ud membangun kesadaran jama’ahnya untuk lebih mementingkan esensi makna khataman al-Qur’an sebagai sebuah momen yang penuh dengan kebarokahan. Bukan karena faktor keberadaan Bapak semata, atau karena faktor muballigh yang menjadi pembicara adalah sosok da’i yang kebetulan sedang populer.

Saat Bapak meninggal dunia, banyak kalangan yang skeptis dengan masa depan PPSPA, minimal untuk jangka pendek. Pertanyaan yang seringkali mengemuka umumnya mengkaitkan kesiapan dzurriyah KH Mufid Mas’ud meneruskan warisan amanat yang begitu besar nan berat. Apakah santri-santri yang ada tidak bubar? Seiring perjalanan waktu, keragu-raguan semacam itu dengan sendirinya tertepis oleh kenyataan. Patut disyukuri, sampai saat ini roda pendidikan di PPSPA alhamdulillah berjalan seperti biasa, malahan banyak peningkatan pada aspek-aspek tertentu. Dari segi kuantitas, santri yang mukim di pesantren ini tidak mengalami penurunan. Bahkan untuk santri putra dan putri yang tinggal di komplek tiga (III), saat tahun ajaran baru kemarin mengalami peningkatan yang cukup tajam (mbludak). Pihak pengasuh waktu itu sampai harus kerepotan menyediakan tempat tinggal sementara sembari menunggu selesainya pembangunan asrama yang sedang berjalan.

Penguatan sistem manajemen kelembagaan yang profesional dan berkualitas menjadi salah satu kunci keberhasilan mapannya (establish) sebuah lembaga pendidikan, dan itulah yang nampaknya telah dipersiapkan KH Mufid Mas’ud selama ini. Resep itu terbukti efektif mengendalikan masa-masa transisi kepemimpinan yang biasanya berjalan labil. Sangat gegabah bila sebuah pesantren hanya mengandalkan ketokohan personal sang Kyai dan mengabaikan manajemen kelembagaan secara profesional dan modern, lebih-lebih di jaman sekarang. Di samping itu tentunya kualitas pendidikan yang diselenggarakan harus terjamin mutunya. Faktor Irsyadu ustadzin (pendidikan & pengajaran) selama ini juga menjadi perhatian utama Kyai Mufid. Asumsinya sederhana, tidak mungkin sebuah lembaga pendidikan akan mucul dan bertahan apabila tidak ada piwulang-piwulang dari guru. Begitu pula tak pernah tercatat dalam sejarah, kemajuan pendidikan dapat digapai tanpa guru-guru berkualitas. Dengan pertimbangan itu tidak mengherankan pabila semua guru yang ditugaskan pengasuh membantu mengajar di PPSPA adalah mereka yang kompeten.

Namun itu saja tak cukup bagi Kyai Mufid, faktor lain yang tak kalah penting dan mendasar menurut beliau adalah upaya peningkatan kecerdasan spiritual bagi semua elemen keluarga PPSPA. Agar terhindar dari rasa ujub, patut diketengahkan lagi nasehat Kyai Mufid yang paling sering dikemukakan pada setiap kesempatan tatkala beliau bercerita tentang setiap jengkal kemajuan yang terjadi di PPSPA yakni; “Semua itu bi ‘aunillah wa bi syafa’ati khoiril bariyah”. Hal itu kemudian oleh beliau diterjemahakan dalam bentuk praktik spiritual yang bersumber ajaran tasawuf beruupa kegiatan mujahadah (istighosah) dalam semua bentuknya. Sejak pesantren ini didirikan sampai saat ini, kegiatan mujahadah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan sehari-hari. “Senjata” andalan Kyai Mufid tak lain adalah doa-doa Qur’aniah dan sholawat, tidak ada unsur bid’ah di dalamnya. Bapak sering menekankan, untuk meraih kesuksesan hidup dunia-akherat, santri Pandanaran harus selalu berwasilah istiqomah membaca al-Qur’an dan sholawat lebih-lebih santri huffadz. Ikhtiar lahiriah tentu saja tak boleh dikesampingkan, beliau sering menganalogkan bahwa “senjata di tangan kanan adalah al-Qur’an, sementara sholawat merupakan senjata di tangan kiri”.

Kyai Mufid menerapkan model pendidikan demikian bertujuan membentuk pribadi-pribadi santri yang berkarakter tawadu’, tidak congkak dengan ilmu yang mereka miliki. Seperti yang sampai sekarang dapat kita saksikan, mujahadah menjadi menu harian santri PPSPA yang mengiringi semua kegiatan tholabul ilmi. Dua pendekatan yang digunakan Kyai Mufid di atas telah menjadikan PPSPA memiliki karakteristik unik tersendiri. Hanya dalam tempo kurang dari 30 tahun semenjak tahun 1975, Pandanaran yang semula tidak ada apa-apanya mampu menyejajarkan diri dengan pesantren-pesantren besar bin mapan di tanah Jawa.
Selengkapnya...