“Berdoalah kalian (semua), maka niscaya akan Aku (Allah) kabulkan”.Demikian firman Allah dalam kitabNYa. Allah mempunyai cara yang unik dalam mendorong kita agar bersujud, berkhusyuk dan khidmat meminta pertolongan kepadaNYA, salah satunya adalah dengan berdoa. Allah berjanji bahwa setiap doa PASTI akan dikabulkanNYA, tentunya doa yang dikabulkan adalah doa yang baik dan bermanfaat.
Dalam setiap firmanNYA, Allah tidak hanya menyampaikan makna yang tersurat akan tetapi juga tersirat. Dalam ayat yang disebut di atas, ada beberapa makna yang tersirat, salah satunya adalah adanya media komunikasi antara Makhluk dan sang Khalik, berupa Do’a.
Bagaimanakah sebuah Doa bisa menjadi media komunikasi antara makhluk dan Khaliqnya ?
Hakikat doa adalah menunjukkan ketergantungan kita kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan berlepas diri dari daya dan upaya makhluk. Doa merupakan tanda Ubudiyah (penghambaan diri secara totalitas kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala). Ketika kita menunjukkan sebuah ketergantungan kepada Allah SWT, terdapat suatu proses interaksi komunikasi. Kita menunduk, bersimpuh, dan bersujud menumpahkan segala keluh kesah permasalahan serta memohon petunjuk solusi pemecahannya.
Proses komunikasi pasti dibutuhkan oleh setiap manusia di bumi. Dengan komunikasi, kita bisa mengutarakan pikiran dan harapan kita, dan tentunya juga mengetahui bagaimana orang lain di sekitar kita berpikir tentang kita. Melalui komunikasi kita dapat berintrospeksi diri, mencari kesalahan dan kelemahan diri dalam semua perilaku. Maka secara tidak langsung akan mendorong kita untuk mengubah dan memperbaiki diri.
Begitu juga halnya dengan doa. Doa, sebagai media komunikasi kita dengan Allah, merupakan alat untuk memperbaiki diri, mengubah potensi diri menjadi kemampuan yang tampak nyata dari dalam diri kita. Jika kita meyakini hal tersebut, maka letak kekuatan doa sebenarnya ada dalam diri masing-masing. Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sampai kaum tersebut (ingin) merubah dirinya sendiri”. (QS. ….)
Seberapa besar keinginan kita untuk mengubah diri menjadi bangkit dan mampu berbuat, akan menentukan seberapa besar perubahan yang terjadi dalam diri dan lingkungan kita. Perubahan inilah yang akan menciptakan hal-hal luar biasa yang terjadi, yang sangat mungkin akan menentukan keberhasilan kita di masa depan.
Ibarat tanaman, kekuatan kita untuk mengubah diri adalah bibitnya, sementara itu doa itu sendiri adalah pupuknya. Pupuk akan membuat bibit tumbuh sedemikian subur, berbuah banyak. Pupuk tanpa bibit tidak akan menumbuhkan apa-apa.
Maka barang siapa ingin setiap perintahnya atau keinginannya dilaksanakan oleh orang lain, hendaknya orang itu juga harus memahami dan mengerti keinginan orang lain, serta merubah diri agar dituruti dan dihormati. Inilah cara berkomunikasi dan berinteraksi yang baik, sehingga barang siapa menginginkan semua doanya dikabulkan, maka janganlah terlebih dahulu memperhatikan apa yang kita minta, tetapi perhatikan apa yang bisa kita ubah dulu dari diri kita sendiri. Contoh ringan misalnya kita tengah terpuruk dalama nilai akademik perkuliahan, ataupun sedang dililit utang, dan sebelumnya kurang tepat waktu dalam melaksanakan shalat, maka hendaknya jangan ragu untuk mulai berubah. Mulailah disiplin dalam waktu shalat.
Selain sebagai media komunikasi dan interaksi dengan Allah, doa juga menjadi bagian dari upaya mendekatkan diri pada Allah. Allah menyediakan berbagai jalan bagi hamba-Nya agar semakin dekat kepada-Nya.
Pada akhirnya dalam proses pelaksanaan doa diperlukan interaksi dua arah. Yaitu interaksi kita dengan diri kita melalui introspeksi, dan interaksi kita pada Allah. Kita harus mengkritisi dan mengevaluasi terhadap perilaku kita, sambil kita terus mengikat diri pada Allah.
Semoga melalui media Doa, kita dapat berkomunikasi dan berinteraksi secara intensif dengan Allah. Dan juga mendorong diri menuju perubahan ke arah yang lebih baik, Amin.
1 Agustus 2008

Amiin. ana jadi terharu baca artikel njenengan. ingat kisah hidup pak Rama yang diffaabel juga ingat "hitam"nya diri. Tapi yang terpenting setelah muhasabah gimana niatan dan usaha untuk memperbaiki akhlak kita.ya to tadz??hehe
BalasHapus