Dusun Candi sebelum kedatangan romo KH. Mufid Mas’ud merupakan dusun yang sepi karena jauh dari pusat kota Jogjakarta. Awal mula KH. Mufid Mas’ud datang ke Candi yang hanya ditemani keluarga, seorang santri putra dan kurang lebih 30 santri putri, beliau belum begitu dipedulikan masyarakat dalam artian masyarakat hanya sekedar tahu bahwa ada seorang Kiai yang bertempat di dusunnya.
Romo KH. Mufid tahun 1975 belum seperti saat beliau meninggal, beliau belum mempunyai kendaraan. Kemana-mana beliau menggunakan kendaraan umum seperti orang kebanyakan. Jika ingin bepergian, beliau sering berjalan kaki sampai jalan raya, biasanya ditemani al-marhumah ibu Nyai Hj. Jauharoh. Jika tiba waktu sholat dan kebetulan masih berada di sekitar jalan raya, beliau sering sholat di tempat keluarga saya, rumah terdekat yang ada. Begitu disiplinnya beliau sholat berjama’ah dan sholat pada awal waktunya.
Tahun 1983 ketika pesantren akan memasang instalasi listrik, terlihat sekali romo KH. Mufid sangat menjujung tinggi hak adami. Meski listrik bukan khusus keperluan pesantren, tapi juga untuk kepentingan bersama, romo KH. Mufid tetap memerintahkan kepada saya untuk menemui masyarakat yang memiliki kebun di pinggir jalan agar berkenan membersihkan pohon-pohon yang akan dilalui kawat listrik. Ada satu dua masyarakat yang mengira bahwa listrik itu untuk kebutuhan pesantren dan minta ganti rugi atas ditebanganya pohon yang ada di halaman mereka, romo KH. Mufid-pun dengan rela hati memberikan ganti rugi sesuai yang diminta melalui saya.
Beliau sangat peduli dengan orang yang mau mendekat kepadanya, itu saya rasakan, saya membuka warung, mulai dari kios bensin kecil hingga kini bisa menjadi seperti yang anda lihat ( kios bapak H. Daud ada di pertigaan jalan masuk PPSPA), semua itu tak lepas dari pantauan dan doa beliau. Selain secara khusus saya mohon do’a romo KH. Mufid Mas’ud, beliau pun sering secara tak langsung mengantarkan tamu-tamu dari kalangan ulama untuk mendo’akan keluarga saya. Warung saya sering dikontrol beliau dengan cara, beliau sering membeli oleh-oleh dari warung saya ketika akan pergi, beliau turun dari mobil, melihat dan memilih sendiri apa yang akan dijadikan buah tangan dan beliau membayar sesuai dengan harga.
Dengan bermukimnya KH. Mufid Mas’ud, Candi yang dulu tidak dikenal masyarakat luar kota, kini menjadi tujuan masyarakat dari berbagai penjuru, baik yang tujuannya untuk memuntut ilmu maupun dengan tujuan mencari rezeki. Kini romo KH. Mufid telah tiada, semoga dengan meninggalnya beliau dusun Candi juga tidak ikut meninggal dalam arti hanya statis, tidak ada perubahan dan pembangunan. Saya yakin beliau tidak mengingkan dusun Candi tidak dilirik lagi oleh masyarakat luar terutama masyarakat pesantren, buktinya romo KH. Mufid minta agar di makamkan di dusun Candi. Mudah-mudahan setelah 30 tahun lebih beliau berjuang, anak-anak, menantu, dan cucu-cucu bisa tetap melanjutkan perjuangan romo KH. Mufid Mas’ud.
Romo KH. Mufid tahun 1975 belum seperti saat beliau meninggal, beliau belum mempunyai kendaraan. Kemana-mana beliau menggunakan kendaraan umum seperti orang kebanyakan. Jika ingin bepergian, beliau sering berjalan kaki sampai jalan raya, biasanya ditemani al-marhumah ibu Nyai Hj. Jauharoh. Jika tiba waktu sholat dan kebetulan masih berada di sekitar jalan raya, beliau sering sholat di tempat keluarga saya, rumah terdekat yang ada. Begitu disiplinnya beliau sholat berjama’ah dan sholat pada awal waktunya.
Tahun 1983 ketika pesantren akan memasang instalasi listrik, terlihat sekali romo KH. Mufid sangat menjujung tinggi hak adami. Meski listrik bukan khusus keperluan pesantren, tapi juga untuk kepentingan bersama, romo KH. Mufid tetap memerintahkan kepada saya untuk menemui masyarakat yang memiliki kebun di pinggir jalan agar berkenan membersihkan pohon-pohon yang akan dilalui kawat listrik. Ada satu dua masyarakat yang mengira bahwa listrik itu untuk kebutuhan pesantren dan minta ganti rugi atas ditebanganya pohon yang ada di halaman mereka, romo KH. Mufid-pun dengan rela hati memberikan ganti rugi sesuai yang diminta melalui saya.
Beliau sangat peduli dengan orang yang mau mendekat kepadanya, itu saya rasakan, saya membuka warung, mulai dari kios bensin kecil hingga kini bisa menjadi seperti yang anda lihat ( kios bapak H. Daud ada di pertigaan jalan masuk PPSPA), semua itu tak lepas dari pantauan dan doa beliau. Selain secara khusus saya mohon do’a romo KH. Mufid Mas’ud, beliau pun sering secara tak langsung mengantarkan tamu-tamu dari kalangan ulama untuk mendo’akan keluarga saya. Warung saya sering dikontrol beliau dengan cara, beliau sering membeli oleh-oleh dari warung saya ketika akan pergi, beliau turun dari mobil, melihat dan memilih sendiri apa yang akan dijadikan buah tangan dan beliau membayar sesuai dengan harga.
Dengan bermukimnya KH. Mufid Mas’ud, Candi yang dulu tidak dikenal masyarakat luar kota, kini menjadi tujuan masyarakat dari berbagai penjuru, baik yang tujuannya untuk memuntut ilmu maupun dengan tujuan mencari rezeki. Kini romo KH. Mufid telah tiada, semoga dengan meninggalnya beliau dusun Candi juga tidak ikut meninggal dalam arti hanya statis, tidak ada perubahan dan pembangunan. Saya yakin beliau tidak mengingkan dusun Candi tidak dilirik lagi oleh masyarakat luar terutama masyarakat pesantren, buktinya romo KH. Mufid minta agar di makamkan di dusun Candi. Mudah-mudahan setelah 30 tahun lebih beliau berjuang, anak-anak, menantu, dan cucu-cucu bisa tetap melanjutkan perjuangan romo KH. Mufid Mas’ud.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar